Pilkada, Industri Ritel Makanan dan Minuman Bakal Moncer Pilkada, Industri Ritel Makanan dan Minuman Bakal Moncer
Pilarberita, Jakarta, CNN Indonesia — Ritel makanan dan minuman diprediksi akan menjadi sektor industri yang moncer di tahun ini. Prediksi itu muncul karena digelarnya... Pilkada, Industri Ritel Makanan dan Minuman Bakal Moncer

Pilarberita, Jakarta, CNN Indonesia — Ritel makanan dan minuman diprediksi akan menjadi sektor industri yang moncer di tahun ini. Prediksi itu muncul karena digelarnya pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2018 yang serentak dilakukan di Indonesia.

“Kami optimistis, walaupun diakui bahwa ritel di Indonesia masih melambat,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey ketika ditemui di Balai Kartini, Kamis (11/1).

Hajatan politik selama 2018 dan 2019 nanti, menurut Roy setidaknya akan menjaga permintaan pasar. Sebab dalam setiap acara politik, mau tak mau konsumsi makanan dan minuman akan terus mengalir dan itulah yang bakal dipenuhi oleh ritel modern.

Sebagai kebutuhan primer, sektor makanan dan minuman dinilai lebih stabil. Asosiasi memperkirakan sektor ini akan tumbuh seperti 2017 lalu, sekitar 7 persen-8 persen.

Selain konsumsi makanan dan minuman, Roy melihat ritel busana juga turut kena efek positif pilkada. Pemesanan pakaian dan atribut untuk kampanye dipastikan akan menjaga ritel busana tetap sibuk berproduksi.

Industri ritel secara keseluruhan memang melambat. Pada 2017 kemarin, ritel hanya tumbuh sekitar 7-7,5 persen. Padahal di tahun sebelumnya Roy mencatat pertumbuhan ritel masih di angka 9 persen.

Menyongsong tahun ini, Roy berujar asosiasi menargetkan pertumbuhan ritel bangkit ke angka 9 persen atau lebih.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan tumbuh dobel digit untuk pertama kali setelah 3-4 tahun lalu yaitu 10 persen.”

Untuk mengembalikan gairah industri ritel, Roy berharap pemerintah bisa memberi bantuan berupa relaksasi regulasi. Relaksasi regulasi yang ia maksud adalah revisi Perpres 112/2015 tentang Rencana Detail dan Tata Ruang (RDTR) yang belum diteken sejak September 2015 silam.

“Tentunya kita harapkan ada keberpihakan regulator karena bagaimanapun konsumsi rumah tangga yang mendominasi PDB 56 persen adalah di sektor ritel,” pungkas Roy.

Di sisi lain, Bank Indonesia memperkirakan, penjualan eceran atau ritel pada bulan depan (Februari) akan mengalami penurunan sesuai pola musimannya. Tekanan kenaikan harga juga diperkirakan akan menurun dibanding bulan sebelumnya.

Hal tersebut tercermin dari hasil survei penjualan eceran BI. Survei tersebut menyebut, Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) pada Februari 2018 sebesar 134,6 atau lebih rendah dibanding bulan ini sebesar 149,1.

“Tekanan kenaikan harga pada Februari 2018 diperkirakan turun dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar BI dalam survei yang dikutip, Rabu (10/1).

Namun, bank sentral tersebut memprediksi penjualan ritel pada Mei akan meningkat, yang terindikasi dari peningkatan IEP menjadi 151. Pilkada dijadwalkan mulai berlangsung pada pertengahan tahun ini. (CNN Indonesia)/(Red-Pilaradiocirebon.com)

(209)